Dalam sinopsis cerita inilah mungkin cara yang cukup tenang dalam aspirasi masyarakat dalam ketakutan mereka dalam mengemukakan pendapat untuk suatu hal yang benar bagi mereka yang tidak bersalah. dan mungki mereka pun sekarang masih berada di dalam negara yang sering terjadi Konflik atau peperangan antar suku, Ras, Budaya, dan negara tersebut.
Walaupun mereka-mereka sudah dari sangat lama ingin merdeka, tapi itu hanya sekedar penyampaian lisan yang sama sekali kurang di tanggapi oleh beberapa negara yang masih belum bisa menerima seutuhnya kemerdekaan untuk negara mereka tersebut. namun tetapi ada banyak juga negara-negara yang mendukung negara tersebut untuk merdeka, mungkin karna rasa ibah mereka melihat masih ada negara di zaman sekarang yang masih belum merdeka seutuhnya.
Dan rasa perihatin karna selalu melihat korban-korban yang tidak berdosa dan tidak bersalah dalam konflik tersebut, dan ratusan ribu korban jiwa yang setiap minggunya selalu ada dan bergelatakan di tengah-tengah peperangan yang sedang berlangsung. dan banyak juga korban anak-anak kecil yang sama sekali tidak tau apa permasalahan utama konflik tersebut, yang akhirnya merekapun meninggal syahid di bawah reruntuhan bangunan, dan berkaparan di atas debu-debu kota.
Dan jika negara-negara tetangga bisa bersikap tegas dan negara-negara yang ikut serta atau membantu salah satu negara tersebut masih mempunyai rasa ibah dan hati nurani, mungkin sudah dari lama konflik atau peperangan antar negara di dunia ini sudah dari lama usai dan tidak pernah terjadi.
Itu saja mungkin penjelasan singkat dari cerpen yang akan saya sampaikan, berikut cerpenya simak baik-baik dan cermati.
Surga di Langit Gaza
Aku lahir di tanah yang diberkati, Palestina, tepatnya di Kota Gaza. Aku selalu merasa beruntung tumbuh di sini, di mana kasih sayang seorang ibu dan tulusnya persahabatan menjadi kekuatan utama. Di tanah ini pula, mimpi-mimpiku tumbuh; mimpi untuk sukses membahagiakan orang tua dan melihat negaraku hidup dalam kedamaian dan kemakmuran.
Tahun 2014, saat usiaku menginjak sepuluh tahun, kepribadianku mulai terbentuk oleh sejarah dan waktu. Namun, ada satu ingatan yang takkan pernah kulupa. Saat aku masih berusia enam tahun, di suatu malam yang sunyi, Ibu menceritakan potongan masa mudanya yang pilu.
Dahulu, Gaza adalah kota yang damai. Ibu bercerita tentang teman-temannya yang konyol, tentang tawa yang pecah di lapangan tempat mereka bermain, hingga mereka sering lupa waktu. Suatu pagi, karena terlalu bersemangat ingin bermain kejar-kejaran, Ibu lupa sarapan. Rasa pening yang hebat tiba-tiba menyerang kepalanya, memaksa Ibu pulang lebih awal dengan perasaan jengkel.
Sambil melangkah pulang, Ibu menoleh ke belakang, melihat teman-temannya masih asyik berlari kegirangan. Ia menggerutu dalam hati, menyalahkan rasa sakit kepala yang merusak harinya. Sesampainya di rumah, Ibu meminum obat dan tertidur lelap hingga malam menjemput.
Ibu terbangun saat kepalanya mulai membaik. Namun, saat hendak mengambil handuk, sebuah dentuman dahsyat menggetarkan bumi. Rasa penasaran mengalahkan niatnya untuk mandi. Di luar, langit Gaza yang hitam berubah menjadi merah membara oleh api. Asap pekat menyelimuti kota.
Ibu berlari menuju sumber ledakan bersama seorang warga lainnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat menyadari bahwa pusat kehancuran itu adalah lapangan tempatnya bermain tadi pagi. Rumah teman-temannya telah rata dengan tanah. Di balik reruntuhan, Ibu melihat raga teman-temannya yang terbakar hebat, tak lagi bernyawa. Tangan Ibu mendingin, keringat dingin bercucuran melihat darah mengalir di sepanjang jalan. Pagi itu ternyata adalah pertemuan terakhirnya dengan mereka.
Tiba-tiba, Ibu melihat cahaya seperti bintang jatuh di langit. Namun, bintang itu berasap. Semakin dekat, barulah ia sadar bahwa itu adalah roket yang mengincar nyawanya. Ibu berlari sekuat tenaga, namun serpihan ledakan tetap mengenainya hingga ia jatuh pingsan dalam keadaan koma dengan luka bakar yang parah.
"Itulah Nak, luka yang Ibu bawa dari Gaza," ucap Ibu dengan suara terbata, menahan tangis. Aku tersenyum haru, bersyukur Allah masih memberi kesempatan padaku untuk memeluknya hingga detik ini.
Namun, ketenangan itu tak bertahan lama.
Sebuah dentuman yang jauh lebih dahsyat tiba-tiba menghantam depan rumah kami. Api besar menerangi kegelapan, dikelilingi asap tebal. Aku segera menyuruh Ibu yang sudah renta untuk tetap di kamar, sementara aku keluar untuk memeriksa keadaan.
Pemandangannya persis seperti cerita Ibu. Ratusan korban bergeletakan, darah berceceran, dan jerit tangis memecah malam. Aku bergegas pulang untuk menyelamatkan Ibu, namun langkahku terhenti. Langit Gaza dipenuhi hujan roket.
Sesampainya di depan rumah, duniaku runtuh. Rumah kami sudah hancur lebur dihantam logam panas itu. Aku berlari di tengah api dan asap pekat, mencari sosok yang kucintai. Di sana, di bawah puing-puing bangunan yang membara, aku menemukan Ibu. Ia telah tiada.
Malam yang sunyi itu ternyata adalah malam terakhir kami. Cerita tentang masa mudanya adalah warisan terakhir yang ia tinggalkan untukku. Kini, aku duduk bersandar di sisa dinding yang hancur, dengan pakaian lusuh dan hati yang remuk. Aku belajar menerima takdir ini dengan ikhlas. Aku yakin, jika dunia tak mengizinkan kami bersatu, maka Allah akan mempertemukan kami kembali di surga-Nya kelak.
Itulah Cerpen yang bercerita tentang kepedihan hidup yang harus di terima seorang anak dan seorang ibu di tengah-tengah peperangan yang terjadi di kota Gaza. yang sampai saat ini mungkin belum usai, dan mungkin tidak akan pernah usai.




2 komentar